Saturday 20 April 2013

TENTANG DIA YANG SELALU INDAH


TENTANG DIA YANG SELALU INDAH
oleh ilham satria


Cerita ini adalah kisah lama yang ingin aku ulangi kembali, jika dia mengizinkannya. Kisah masa kecil, dimana aku pertama kali menyukai seorang wanita “tepatnya seorang gadis kecil” karena waktu itu aku masih kelas 5 SD. aku pernah memberinya sebuah kalung yang berinisialkan namanya yaitu huruf “F”, dengan selembar kertas kecil yang bertuliskan “aku suka kamu”. Dia hanya diam tak berkata sedikit pun dan keesokan harinya dia sedikit lebih menjauh dariku. Cuma itu tidak berlangsung terlalu lama, sampai akhirnya dia pun melupakannya. Entahlah kalau sekarang dia masih mengingat kisah itu, bagiku itu adalah manis atau pahitnya kehidupan percintaan. Orang bilang sih cinta SD dan SMP itu cuma cinta monyet, tapi sampai sekarang aku masih menyukainya.
Berawal dari tamat SD, kita pun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP. Dulu aku berharap bisa satu sekolah dengan dia, agar semua lebih terasa indah. Tapi itu hanya sekedar harapan yang tidak terkabulkan. Kenyataanya aku dengan dia tidak satu sekolah. Tapi itu tidak menghentikanku  untuk berhenti menyukainya. Karna rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku, kurang lebih 1.000 meter adalah jarak yang sangat dekat bagiku untuk memperjuangkan cinta bukan “sebagai pejuang cinta”. Dari kelas 1 SMP hingga kelas 2 SMP pertemuan kita hanya dikarenakan adanya reuni SD, itu pun kalau dia menghadirinya. Dan aku sungguh sangat jarang menghubunginya, bahkan bisa terhitung beberapa kali saja aku menghubunginya. Untuk itu saja aku harus sembunyi-sembunyi mencuri kesempatan untuk memakai telepon rumah. Maklum  saja diumur semuda itu aku belum di izinkan memegang handphone oleh orang tua, dengan alasan takut kalau aku menyalahgunakannya dan tidak terlalu penting seumuranku memegang handphone. Masih banyak lagi alasan orang tuaku ketika aku meminta di belikan handphone. Apalah daya, mau tidak mau aku terpaksa menerima alasan tersebut dengan raut wajah kecewa. Itu lah faktor utama kenapa aku jarang menghubunginya. Seandainya pun bisa menghubunginya pasti selalu adak faktor kedua yaitu rasa takut dan malu yang mengendap dan menyatu di hati ini.
Ketika beranjak memasuki kelas 3 aku kembali memohon agar aku dibelikan handphone dengan alasan, agar aku lebih mudah memberi kabar jika ada les tambahan disekolah dan belajar kelompok di rumah teman. Entah ada angin apa orang tuaku pun lansung mengajak aku untuk membeli handphone dengan catatan tidak boleh handpone yang berkamera. Aku tidak memperdulikan hal itu yang terpenting mempunyai handphone saja aku sudah bersyukur.
Aku memutuskan untuk menghubunginya terlebih dahulu dengan kata “hai” dan menanya kabar, dia merespon biasa-biasa saja, aku pun memakluminya karna ini baru awal perjuangan. Aku melanjutkan percakapan lewat sms dan masih tidak berani utuk menelponnya. Sampai akhirnya aku mengajak dia untuk lari pagi pada hari minggu. Itulah pertemuan pertama kali aku dengan dia setelah aku memiliki handpone. Semenjak itulah aku sering mengajaknya untuk lari pagi, jadi bukan tubuh atau fisik saja sehat karena lari pagi, tapi juga menyehatkan bagi hati jika bertemu dengannya.
Tibalah saatnya aku menyatakan perasaan kepadanya, pada hari minggu di pertemuan lari pagi kita yang ke lima. Di pagi itu sekitar pukul 04.30 WIB aku terbangun lebih awal dari biasanya, mungkin karena sudah tidak sabar menanti saat-saat yang menegangkan bagi hati ini. Tidak biasanya aku mandi dan gosok gigi sebelum lari pagi. Itulah yang terjadi, aku harus menyiapkan diri serapi dan sewangi mungkin agar menampilkan performance yang lebih baik. Pukul 06.00 WIB aku beranjak pergi meninggalkan rumah dan berlari santai menuju persimpangan rumahnya, biasanya aku selalu menuggunya disana. Sekitar lima menit, sosok gadis yang aku tunggu-tunggu muncul dari kejauhan. Dengan memakai celana traning panjang yang sedikit pensil berwana hitam dan jaket biru langit yang sangat cocok dengannya ditambah lagi dengan senyuman tipis nan indah. Sungguh cantik dia saat itu, bahkan dia menjadi pelengkap pagi pada hari itu. Dia datang menghampiriku dan bertanya “sudah lama?” aku hanya menggeleng terpesona. Sekitar 5 detik aku pun tersadar dari lamunan dan mengajak nya berlari dengan nada suara yang grogi. Kita berlari di sepanjang jalan tepi pantai santai sambil bercakap-cakap dan menanyakan bagaimana kegiatan disekolah kita masing-masing. Sudah 15 menit kita berlari, tiba-tiba dia mengajak lari cepat atu sprint. Aku tidak sungkan-sungkan mengatakan siap dan langsung memasang posisi. Dia mulai menghitung “1” aku melirik nya, “2” aku mengalihkan pendangan lurus kedepan, dan dia pun berlari mencuri start dan berteriak “3”. Ternyata aku ditipu oleh nya, aku berlari secepat mungkin dan berhasil menyusulnya. Nafas kita berdua sesak tak menentu, dia malah menuduhku yang curang karna aku berlari terlalu cepat. Aku tertawa dan berkata “yang curang duluan siapa?”, dia pun cemberut dan mencoba mengatur nafas nya kembali. Kita menyudahi lari pagi kali ini, dan berjalan kembali menyusuri bibir pantai. Aku mengajaknya untuk beristirahat sejenak di tumpukan bebatuan di tepi pantai itu. Jantungku mulai berdebar seakan membuat tubuh ini kaku seketika, telapak tangan ini mengeluarkan keringat dingin, dan lutut gemetar tidak sanggup berdiri kembali. Aku berusaha merobek kebisuan untuk berbisik “aku suka sama kamu”, dia menoleh memasang raut wajah keheranan. Aku pun mengulanginya dengan suara yang lebih keras, dia pura-pura tidak mendengar. Lalu aku menarik nafas panjang sambil berdiri mengarah pantai, mengumpulkan semua perasaan yang menumpuk ini, dan berteriak sekeras-kerasnya ”AKU SUKA SAMA KAMU”, aku kembali duduk dengan nafas yang menggebu-gebu “kamu mau gak jadi pacar aku?” aku lontarkan pertanyan itu kepadanya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, ternyata dia menjawab dengan senyuman dan menganggukkan kepalanya. Itu adalah kata “iya” walaupun dia tidak mengucapkannya. Hari itu sungguh sangat indah dengan kehangatan mentari pagi yang menepis wajahnya. Aku mengantarnya pulang sembari hari yang beranjak semakin siang, dan berharap esok akan menjadi hari-hari lebih indah.
Dia adalah seseorang  yang pertama kali yang telah mengambil alih hatiku, bisa di bilang ini cinta pertama ku dan juga dia pacar pertamaku. Memang aku sendiri menyadari cintaku dan dia pada masa itu hanya cinta monyet, tapi entahlah kebahagian yang aku rasakan selalu membawaku ke dunia yang berbeda. Bahkan aku menganggap pacaran bukanlah hal yang sulit dan tidak terlalu rumit, yang terpenting harus setia.
Ternyata hubungan kita tidak bertahan lama. Minggu pertama kita berkomunikasi sangat lancar dan selalu menanyakan kabar dan berbagi cerita di setiap kegiatan sekolah. Tidak terlalu banyak masalah dalam hubungan kita saat itu, palingan cuma sedikit salah paham ketika telat membalas sms. Di minggu kedua kesibukan saya dan dia mulai terlihat semenjak mengikuti les disekolah maupun bimbel diluar, yang mengakibatkan jarang komunikasi dan membuat hubungan kita semakin buruk. Yang terkadang masalah kecil bisa menjadi sangat besar. Akhir minggu ketiga dia menelpon saya, dengan sedikit intermezo tentang dia harus fokus belajar untuk menghadapi ujian nasional yang berujung ingin memutuskan hubungan kita. Saya hanya bisa diam dan berfikir sejenak bahwa apa yang dia katakan adalah benar, dan kita pun setuju dengan mengakhiri huhungan ini dengan damai.
Semenjak keputusan kita berdua itu, saya tidak pernah menghubunginya apa lagi mengajaknya lari pagi. Kalau dikatakan sedih aku memang sedih, tapi itu tidak membuatku untuk menyesali keputusan yang telah kita pilih. Karena aku berfikir dengan berakhirnya hubungan kita, aku dapat lebih fokus lagi untuk mempersiapkan diri mengahadapi ujian nasional.
Dia akan selalu indah, walau hanya akan ada masa lalu tentang dia dalam hidupku. Aku sagat berterima kasih telah menjadi bahagian cerita cinta dalam hidupnya.


No comments:

Post a Comment